Favourite Blog's

Wednesday, August 17, 2011

The Lone Rider goes to Puncak Suroloyo

Tanggal 30 Agustus 2010, di saat bulan masih menunjukkan bulan Ramadhan akhirnya kesampaian juga untuk melihat langsung tempat bernama Puncak Suroloyo. Sebelumnya sering melihat website Yogyess.com dan Jogjatrip.com terbersit keinginan untuk mengunjungi tempat tersebut. Berikut adalah sebuah petikan dari Yogyess.com :
” Matahari muncul dalam warna kemerahan kurang lebih pada pukul 5.00 WIB, menyembul di antara ranting pohon yang berwarna hijau. Sinarnya membuat langit terbagi dalam tiga warna utama, biru, jingga dan kuning. Serentak saat warna langit mulai terbagi, sekelompok burung berwarna hitam mulai meramaikan angkasa dan membuat suara serangga tanah yang semula kencang perlahan melirih.
Empat gunung besar di Pulau Jawa, yaitu Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro menyembul di antara kabut putih. Ketebalan kabut putih itu tampak seperti ombak yang menenggelamkan daratan hingga yang tersisa hanya sawah yang membentuk susunan tapak siring dan pepohonan yang terletak di dataran yang lebih tinggi. Dari balik kabut putih itu pula, stupa puncak Candi Borobudur yang tampak berwarna hitam muncul di permukaan lautan kabut”
Sebuah deskripsi yang sounds good sebagai sebuah tempat yang layak di kunjungi. Berlokasi di kabupaten Kulonprogo, tepatnya kecamatan Samigaluh yang lokasinya bergunung-gunung. Puncak Suroloyo sesuai dengan namanya adalah puncak tertinggi dari pegunungan Menoreh dengan ketinggian mencapai 1,019 mdpl, oleh karena itu udara sangat sejuk bahkan cenderung dingin meskipun di siang hari di musim kemarau. Menurut mitologi Jawa tempat ini adalah titik pusat pulau Jawa, bila di tarik garis dari utara ke selatan, dan dari barat ke timur pulau Jawa. Bagi orang yang percaya, tanggal 1 suro menurut penanggalan Jawa, tempat ini ramai dikunjungi orang untuk mengadakan ritual penolak bala yang menurut mitologi Jawa akan banyak hadir di bulan Suro. Wallahu ‘alam
Anyway, kembali ke catatan sang Lone Rider : Perjalanan ini di mulai dari kampus UGM (waktu itu sedang ada perlu) kemudian bersama sang motor tercinta,Vixi, menuju arah jalan Magelang dan kira-kira sedikit di utara terminal Jombor sang motor di belokkan ke kiri (sebenernya belum pernah lewat jalan ini, ngasal saja :-P ). Berkendara ke barat terus sampai akhirnya ketemu jalan yang cukup familiar karena sebelumnya pernah lewat (jangan tanya jalan apa, karena saya juga tidak tahu namanya). Wes-ewes-ewes dengan kecepatan sedang Vixi terus di geber sampai menyebrangi sungai Progo lewat sebuah jembatan kecil yang cuma cukup buat motor saja (pemandangan kali Progo-nya keren euy, cuman sayangnya tidak sempat mengeluarkan senjata kamera dari dalam tas). lewat jembatan tersebut dan masuk ke kabupaten Kulonprogo (banyak yang jual duren di sini).
Ketemu dengan jalan gede (Kalibawang – Muntilan), Lone Rider belok ke kiri (arah selatan) sambil ilang-iling mencari plakat penunjuk ke arah Suroloyo. Akhirnya menemukan sebuah plakat kecil sederhana dengan tulisan “BORO” ….Loh kok Boro?? bukan Suroloyo??.  Gak perduli, pokoknya hajar bleh belok kanan ke jalan aspal yang tidak begitu lebar dan mulai kelihatan pegunungan ( sampai di sini masih belum yakin ni jalan bener apa nggak, pokoknya jalan terus saja). Sedikit ke arah barat terdapat sebuah gereja besar banget di sebuah desa kecil. Baru ingat kalo di Boro memang terdapat sebuah gereja besar. Jalanan mulai naik dan pemandangan mulai mengasyikkan karena terdapat sebuah sungai dengan batu-batuan dan air dengan debit yang kecil, akhirnya berhenti sebentar untuk ambil foto.cekreeek.....cekreeek

” Sungai yang tidak saya ketahui namanya ini cukup bagus sebagai obyek foto, debitnya kecil dan airnya jernih (karena musim kemarau mungkin ya?). Foto ini di ambil dari sebuah jembatan kecil yang sepertinya menjadi penghubung antara dua kampung”


Perjalanan di lanjutkan dengan medan yang semakin menanjak dan jalan yang semakin jelek, rumah-rumah penduduk semakin jarang, dan tanaman semakin rimbun. Yang paling di khawatirkan dalam perjalanan sebagai Lone Rider adalah apabila terjadi masalah pada motor akan menyulitkan mengingat tidak ada teman yang bisa di mintai bantuan, dan mantapnya lagi adalah si Vixi baru saja mendapat masalah di fuel pump sekitar 2 minggu sebelumnya. Fuel pump tiba-tiba mati, dan untuk kejadian semacam ini solusi terbaik adalah ke bengkel resmi untuk di perbaiki (kalau ke bengkel tidak resmi garansi bisa hangus coy…), kalaupun bongkar sendiri itu juga bukan perkara mudah dengan peralatan seadanya. Jadi sambil terus mamacu motor yang semakin menderu-deru mencari grip di jalanan yang sangat menanjak, dalam hati terus berdoa supaya motor tidak kenapa-kenapa. Dalam perjalanan melihat ada bapak dan ibu guru pulang mengajar (buset, ngajar ditempat setinggi ini apa gak capek bolak-balik naik gunung ya??)
Vixiiiii
” The sad part of being a lone rider is that i never have my own picures on the fram since i have to grab and press camera’s shutter myself. Bring a tripod is sound to be a clever idea, but it give us another kilos on our shoulder to bring. Well all in all, it’s okay, i’m not fotogenic after all…hehe”


Udara semakin dingin dan terdapat tulisan “Puncak Suroloyo 10 km” WHATTTT ??!!!??, jauh juga rupanya…Naik lagee dengan mesin yang semakin menderum-derum dan jurang di kiri-kanan jalan menawarkan pesona keindahan dan maut yang mengancam apabila lengah. Akhirnya terlihat sebuah puncak gunung dan di atasnya terdapat semacam gardu pandang…It must be that place….But wait a minute, ternyata sedang ada pembuatan bangketan di tebing-tebing jalan tersebut, ngeri juga membayangkan pekerja bekerja di tempat seperti itu, di belakan mereka sudah terlihat pemandangan kota Magelang (menurutku sih, soalnya saat itu sudah hilang orientasi arah…taunya cuma depan-belakang, atas-bawah….hehehe)
Sebuah palang bambu menghadang, ooow rupanya tempat penarikan retribusi (kirain bisa masuk bleng tanpa mbayar…haha). Kalau tidak lupa tarifnya Rp. 3000 saja, murah-murah. Jalan sebentar dan akhirnya sampai juga di deretan anak-anak tangga yang panjang dan cukup terjal. Parkir motor dulu di sebuh rumah, eh rupanya kalau mau nyewa teropong ada juga di rumah itu. Tarif parkir Rp. 2000 dan kalau mau pinjam teropong Rp. 2000 juga. Cuap-cuap bentar sama pemilik rumah terus di lanjutkan jalan ke arah tangga. Terdapat sebuah papan petunjuk, dan ternyata : KKN PPM UGM was here…ni dia fotonya :

“Maaf kalau tulisan UGM-nya gak kelihatan, itu tu di pojok kanan bawah, ternyata KKN PPM UGM pernah ke tempat ini, mungkin tema KKN adalah pemberdayaan obyek wisata Puncak Suroloyo, hayo siapa yang dulu KKN di sini ngaku!!”


Bismillah, naik anak kesatu-dua-tiga dan seterusnya trus motret rumah penduduk dulu (pura-puranya motret, padahal menggeh-menggeh :D )

Naik lagi, dan menyadari bahwa Saya adalah satu-satunya pengunjung tempat ini. Sambil jalan sambil membayangkan bagaimana susahnya para buruh bangunan dulu menaikkan material dan semen ke tempat ini, soalnya saya yang cuman di bebani sebuah backpack berisi kamera saja merasa capek naik tangga yang banyak dan curam ini. Perlu di ingat bahwa pada tanggal 30 Agustus 2010 tersebut masih bulan puasa, jadi perjalanan naik tangga ini cukup menguras tenaga dan fluida dari tubuh. Akhirnya checkpoint pertama accomplished (pertama dan akhirnya terakhir, karena ngeri mau naik lagi, check picture below). Sebuah gardu pandang yang mengarah ke Kota Magelang (menurutku yang sedang hilang orientasi :D ). Sepanjang mata memandang terlihat pemandangan indah dari tanah terhampar yang ditumbuhi pemukiman dan sawah, sayangnya karena waktu sudah tengah hari kabut sudah tebal, pemandangan Candi Borobodur yang dijanjikan tempat ini pun tidak bisa terlihat (pada next trip kelihatan tapi gak jelas karena tertutup kabut).

“Ternyata ada bangunan di dekat gardu pandang, padahal jurang di tempat bangunan berdiri termasuk curam”


Puas melihat pemandangan di depan mata, terus memalingkan pandangan ke kanan ke arah anak tangga yang lain dan....eng-ing-eng :
Ternyata tebing yang longsor turut merusakkan anak tangga menuju checkpoint selanjutnya. Menurut standard safety yang pernah saya ikuti sewaktu saya bekerja di Kalimantan dulu, penting sekali untuk menerapkan Buddy System dalam tindakan apapun. Apa itu Buddy System?? adalah sebuah sistem yang menuntut kita untuk meminta bantuan atau mempunyai rekan dalam mengerjakan suatu pekerjaan, terlebih untuk pekerjaan yang beresiko tinggi. Melewati tangga yang longsor seperti ini adalah tindakan berbahaya, Risk Assesement nya susah terpenuhi, dengan resiko mulai dari jatuh, terpeleset, jalur tiba2 ambrol lagi atau sudah lewat terus jalur putus. Mengingat Lone Rider tidak punya rekan di sini, akhirnya di putuskan untuk turun dan pulang (Alhamdulillah punya justifikasi kuat untuk turun, padahal alasan sebenernya adalah sudah capek dan haus….hehehehhe).
Turun, ambil motor, bayar parkir dan menyusuri jalan yang sama untuk turun ke bawah (namanya turun pasti ke bawah lah :D ). Masih sambil ilang-iling kiri-kanan mengagumi pemandangan pegunungan yang elok, asri dan misty dengan udara sejuk di bulan Ramadhan di tahun 1431 H. Turunan tajam bukan berarti mesin jadi rileks, yang terjadi justru mesin nggerung2 mencoba engine brake, kehati-hatian sangat di perlukan di sini, hindari mengerem di tanah berpasir dan seimbangkan antara rem depan dan belakang, jikalau motor di rasa ndronjong terlalu kencang turunkan gigi ke posisi lebih rendah untuk mendapatkan engine brake yang lebih mantap.
Alhamdulillah sampai juga di pertigaan kecil jalan Kalibawang-Muntilan, ambil kanan ke arah Kenteng untuk pulang. Jalan lebar dan halus dengan tikungan2 tajam yang butuh perhatian lebih, terdapat juga tikungan irung petruk yang asyik di libas. Perempatan Kenteng, ambil kiri ke arah Godean dan pulang. Just for your information sang Lone Rider ini rumahnya di mBantul, sapa tau ada yang mau bertamu...hahaha

Kesimpulan :
Puncak Suroloyo sebuah tempat yang recommended untuk di kunjungi terutama oleh yang suka touring naik gunung baik itu dengan sepeda motor maupun Sepeda (tidak bisa membayangkan bagaimana nggenjot sepeda di tanjakan2nya…hehe). Pemandangan indah, udara sejuk, ongkos masuk murah. Yang masih kurang adalah adanya jalur yang ambrol tersebut (tapi terakhir kesana pada trip kedua sih sudah bagus lagi), dan kalau bisa sih ada jalur motor ke puncak nya…heheheh (ngarep)
Oya, mendingan jangan ikuti perjalanan ala Lone Rider, datang kesana enaknya rame-rame, jadi kalau ada apa-apa ada yang bantuin (Maksudnya kalau ada yang pingsan kecapekan naik tangga ada yang bantuin nggotong :D )

Salam Lone Rider....

5 comments:

  1. Ngekek-ngekek aku bacanya mas;
    bisa lucu juga to mas kunto ini :p

    Review yang menarik mas. Aku yang tumbuh besar di west prog aja belum pernah ke sana;
    some day i wish..sama suami,hihihi

    Keep posting mas :)

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah bisa bikin orang senyum/ketawa. Padahal bukan maksude nglawak lo...hehe

    Mosok belum pernah kesini?? aku saja sudah 2x lo, yang pertama nglayap sendirian, yang kedua ngajak bolo...

    Thanks comment-nya

    ReplyDelete
  3. i was there..!!!! tp sayang, pas nyampe puncak malah ujan deres...(mulai dr jalanan tebing yg mengerikan itu siy sbnernya dah mulai ujan),jd ga bs menikmati pemandangan sama sekali... jd nyesel ga kesana lg,trnyata pemandangannya luar biasa :(
    tapi aq sempet foto di spot yg ada vixi-nya tuu...dan rame2,,hehhehe...

    ReplyDelete
  4. Waduh kalau hujan pasti berkabut tu, ngeri juga. Eh foto di tempat motorku itu juga to?? pernah nyoba jalan yang satunya itu gak? (kan di situ nyabang dua, yang satu ke Suroloyo dan ada satu lagi). Kalau lewat situ mantap banget lo medannya, penuh tanjakan, turunan dan tikungan jahanam...hehehe

    ReplyDelete
  5. bukan berkabut lg, jarak pandang ga nyampe 5meter.mana aq berangkatnya justru lewat jalur ekstrim itu,,jalannya sempit, kiri tebing, kanan jurang, berasa nganterin nyawa.hahahha... dulu mana aspalnya msh jelek bgt..offroad pake honda ;p gara2 penunjuk jalannya ga tau klo ternyata ada jalan yg aspalnya mulus...pas pulangnya br deh, ngerasa kecele klo trnyata ada jalan yg lancar jaya..wkwkwk

    ReplyDelete