Favourite Blog's

Friday, August 19, 2011

The Lone Rider goes to Luweng Sampang & Air terjun Sri Gethuk

Setelah sekian lama vakum dari kegiatan ‘Lone Rider’ akibat di pasung di Jakarta, akhirnya saat mendapat jatah off kali ini di isi dengan kegiatan mbolang gak jelas di bukit2 sekitaran gunungkidul. Perjalanan pertama adalah ke daerah Sampang, Gedangsari. Di daerah dekat dengan Gantiwarno, Klaten ini terdapat ‘Luweng Sampang’. Seperti biasa, internet adalah sumber dari informasi perjalanan ini. Setelah naik bukit pathuk dan sampai ke pertigaan arah wonosari-nglipar, ambil arah nglipar dan ikuti terus jalan bagus yang ada. Lama kelamaan jalanan semakin naik turun dengan pemandangan kiri kanan sungai dan bukit yang keren. Setelah berjalan tak tentu arah sampailah pada sebuah tanjakan yang sangat tinggi dan panjang dan mulai kehilangan orientasi, untungnya ada kakek pembelah kayu di pinggiran jurang menjadi tempat bertanya (sebenarnya bawa GPS juga, tapi masih gengsi buat pakai, karena inti dari Lone Rider ini salah satunya adalah berjalan dengan menggunakan naluri navigasi…*jiahaha…gayabetul*). Dari informasi yang di dapat ternyata di bawahsanasudah masuk kabupaten Klaten (pantesan saja topografinya sudah beda banget). Dengan petunjuk dari sang Kakek (jangan2 setelah saya pergi sang kakek tiba2 langsung hilang ya? kayak di film-film itu tu…hohoho), berjalanlah sang Vixi menyusuri jalanan aspal berpasir dengan turunan2 dan kelokan tajam di bibir2 jurang yang  terjal ini. Sampai di bawah ternyata ada kampong, dan dari melihat-lihat papan nama di pinggir jalan tahulah bahwa saya sudah sampai desa Sampang. Melewati sebuah jembatan dan ternyata ada 2 jalan, ke kiri dan kanan, secara naluri ambil kanan dan terus menyusuri kampong dan menyadari keanehan, yaitu mulai hilangnya topografi gunungkidul. Akhirnya GPS dan Google Maps harus di pergunakan, dan benar ternyata saya sudah berjalan ke arah Gantiwarno. Langkah selanjutnya, putar balik dan kembali ke arah jembatan tadi, dan terus menyusuri sungai batu kapur sampai akhirnya dari kejauhan terlihat formasi batuan yang pernah saya lihat di foto2 blogger di internet. Yup, sampailah saya di Luweng Sampang.



Ternyata yang di sebut luweng Sampang ini tidak begitu tinggi, mungkin ada sekira 5 meter saja. Dan jauh dari definisi luweng yang saya dengar sebagai mirip sebuah sumur yang besar dan dalam, ternyata luweng ini lebih mirip air terjun mini tetapi dari formasi batuan kapur yang sepertinya tererosi aliran air sehingga membentuk formasi yang menarik. Di lihat dari atas jadi teringat film 127 hours yang dibintangi James Franco, tentang seorang petualang yang suka berpetualang sendirian dan terjebak di sebuah celah batuan dengan tangan kanannya terjepit batu sampai akhirnya dia bertahan hidup selama 127 jam dan keluar dengan cara memotong sendiri tangan kanannya yang terhimpit batu (ngeri banget, kayak film SAW).


Top View Luweng Sampang


Perjalanan Lone Rider yang kedua adalah ke desa wisata Bleberan, Playen, Gunungkidul. Menurut kisah2 di blog-blog internet, di desa yang tenang dan asri ini terdapat sebuah air terjun di tepian sungai Oyo, tak hanya itu katanya ada juga sebuah goa bernama Rancang Kencono. Jadilah di siang hari yang panas itu, kembali dengan ditemani vixi, saya naik lagi ke patuk. Sampai di lapangan gading terdapat pertigaan dan saya ambil ke arah Playen. Dari kantor kecamatan Playen belok kanan dan ikuti jalan, tak jauh terdapat plakat berbunyi “Air Terjun 7 km, KKN UGM” (wah lagi ada KKN juga rupanya di sekitar situ). Ikuti jalan halus itu sampai mendekati km 6 jalan sudah mulai berubah bentuk menjadi jalan batu.
Destinasi pertama adalah goa Rancang Kencono. Pertama datang binung nyari pintu masuknya, ternyata mulut goanya ada di atas. Lebih mudahnya silakan lihat foto berikut


Sebuah pohon besar tumbuh tepat di tengah mulut goa, tangga masuk berada di belakang pohon

Goa-nya sepi banget, hanya saya sendiri yang di situ pada waktu itu (mungkin karena bukan hari libur juga). Dari pengamatan saya, goa-nya tidak dalam, tapi mungkin saja masih ada jalan masuk lagi mengingat terdapat semacam ruangan lagi di dalamnya, tapi saya tidak berinisiatif masuk lebih dalam karena sebagai Lone Rider tentunya saya sendirian di sana, motor juga tidak ada yang jaga (alasan saja sebenernya, yang benar karena memang rada ciut nyali masuk lebih dalam lagi….hehehe). Ciri khas goa ini adalah pohon besar yang hidup dan tumbuh tapat di tengah lubang goa, nama pohon tertera di sana (mungkin yang ngasih mahasiswa KKN), sayangnya saya lupa nama pohonnya, jadi sebut saja ‘Pohon Besar’….hehehe) Foto2 sebentar dan lanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya dan yang utama yaitu air terjun Sri Gethuk atau oleh penduduk sekitar juga di sebut air terjun Slompret atau Slempret.

Ternyata memang benar kalau kadang petunjuk jalan kadang ada yang menyesatkan, mengikuti petunjuk jalan yang ada ternyata jalan menuju air terjun lumayan terjal dengan batu gamping kecil2 yang licin, terlebih lagi semakin lama jalan semakin jelek dan perasaan sepertinya saya masuk ke kebun tidak bertuan yang rimbun (nanti sewaktu pulang ternyata lewat jalan keluar, jalannya lebih lumyan dan dekat sekali). Alhamdulillah akhirnya terdapat tanda2 keberadaan lembah sungai, dan benar sekali dari kejauhan nampak pemancingan dan akhirnya sungainya pun mulai kelihatan. Awalnya bingung mau naruh motor di mana? Mengingat tidak ada tempat parkir yang representative. Dengan Tanya ke penduduk sekitar akhirnya di yakinkan kalau parkir sembarang tempat aman, walhasil vixi ikut bersanding bersama motor2 penduduk yang sedang ngarit !!
Begitu turun sampai bibir sungai mulai terlihat keindahan tempat ini, air hijau, air terjun yang lebih pendek sudah kelihatan, bentuk2 batuan yang unik menghiasi sungai, dan tak ketinggalan sebuah perahu kecil untuk penyeberangan terparkir di pinggir sungai baru saja selesai mengantar serombongan mahasiswa KKN dari air terjun. Cukup dengan 3 ribu rupiah perahu akan mengantar kita menuju air terjun Sri Gethuk. Dalam perjalanan di sebutkan bahwa ada bagian sungai yang dalamnya 10 meter, dan sungainya sendiri melebar di bawah bukit batu kapur sampai 20 meter !!! Airnya hijau dan jernih, bahkan segerombolan ikan gabus yang besar-besar kelihatan jelas dari permukaan.


Sungai Oyo yang jernih dan hijau



Pengarungan sungai oyo sambil melihat formasi batuan unik

Sampailah di air terjun Sri Gethuk, ketinggiannya menurut saya sekitar 20an meter, tidak tinggi tetapi tetap indah, apalagi airnya jatuh tersebar ke batu gamping putih kecoklatan dan langsung menuju sungai Oyo yang hijau. Airnya bersih dan Segar, menurut cerita sih air terjun ini terus mengalir sepanjang tahun (percaya, soalnya saya berkunjungnya juga pada musim kemarau dan air tetap mengalir deras).
Menurut cerita orang local, air terjun dan sekitarnya adalah kerajaan jin tetapi jin di sini suka dengan kesenian. Dari cerita ini pula muncul nama ‘Slempret’ yang berasal dari kata ‘Slompret’ yang berarti terompet. Hal ini di karenakan pada waktu tertentu sering terdengar bunyi terompet dan bunyi-bunyian yang lain dari tempat ini. Sedangkan nama satu lagi yaitu Sri Gethuk, saya juga belum berhasil menggali info dari mana nama ini bermula.


Air Terjun Sri Gethuk



Air langsung mengalir ke sungai Oyo yang bening dan hijau



Hamparan sungai oyo yang hijau di musim kemarau

Puas mengagumi dan memotret air terjun dan sekitarnya, saatnya kembali. Dengan menyusuri jalur yang sama menggunakan gondola eh perahu :D kembalilah saya ke tempat semula. Sempat ngobrol2 sebentar dengan bapak2 pencari batu di pinggir sungai sambil potret2 lagi daerah sekitar sungai, akhirnya tibalah saat untuk pulang. Jalur pulang saya mencoba rute lain yang melewati jembatan yang membelah sungai oya menghubungkan gunungkidul dengan Dlingo, Bantul. Seperti biasa, pemandangan pegunungan masih elok dan memanjakan mata. Jalan yang saya ambil adalah yang ke arah patuk menuju daerah Terong, dari sini terus turun ke Segoroyoso dan pulang. Saat cek GPS yang sengaja di hidupkan dari rumah tercatat total jarak 123 km, kecepatan rata2 40 km/jam, top speed 97.5 km/jam. Perjalanan solo yang menyenangkan apalagi tempat tujuannya benar-benar indah sesuai harapan. Salam Lone Rider ….

Thursday, August 18, 2011

Menikmati eksotisme pantai di Wonosari : Sadeng, Indrayanti & Baron

Tanggal 20 November 2010 lalu, bersama dengan dua orang teman saya berkunjung atau kita lebih senang menyebutnya touring ke jajaran pantai Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Di saat erupsi merapi sudah mereda namun masih menimbulkan duka bagi masyakat Jogja pada khususnya, di saat abu vulkanik masih tersisa di sekujur Jogja, kami bertiga berjalan menyusuri jalan sepanjang pantai yang terbentang panjang di mulai dari Panggang sampai Sadeng. Touring kali ini adalah yang kesekian kali kami lakukan, entah kenapa meskipun kami cukup sering berkunjung, tiada rasa bosan untuk kembali menyusuri jalan naik-turun dan berkelok-kelok itu. Kali ini kami memakai dua motor, dan di sinilah asyiknya menempuh jalur berbukit ini dengan motor, jalanan meliuk-liuk membuat sensasi bermotor sangat terasa, bagaimana kita menikmati setiap alur tikungan yang naik-turun, mengatur gas dan rem dengan seksama dan merasakan hempasan-hempasan shock breaker yang sedang bekerja keras meredam getaran demi kenyamanan kita sang pengendara.

Singkat cerita, perjalanan di mulai dari Bantul langsung ke Sadeng (pantai paling ujung timur), odometer menunjukkan kalau jarak dari Bantul (rumah saya) ke Sadeng adalah sekitar 95 km. Sebelum sampai Sadeng kami di suguhi pemandangan muara sungai Bengawan Solo Purba (katanya geologist sih gitu), memang terlihat pada lembah di antar dua bukit tersebut terbentang hamparan yang mirip dengan penampakan sebuah sungai, dan sungai tersebut sepertinya bermuara di Sadeng (jadi saat kita menyusuri jalan menuju Sadeng, mungkin di jaman Fred Flinstone dulu kala daerah tersebut penuh dengan ikan-ikan purba…hehehe).

“Muara sungai Bengawan Solo purba meliuk membelah bukit dan akhirnya bermuara di Samudera Hindia”

Pantai Sadeng adalah pantai Nelayan, di mana terdapat juga tempat pelelangan ikan. Menurut cerita-cerita Sadeng juga salah satu spot memancing favorit dari mancing mania Jogja. Saat kami tiba di Sadeng, cuaca cerah dan panas. Terdapat beberapa perahu nelayan yang sedang bersandar pada dermaga yang berisi air berwarna kehijauan. Tidak ingin menyia-nyiakan momen, langsung kami abadikan gambar tersebut di kamera masing-masing.

“Para fotografer sedang beraksi"

Selesai dari Sadeng kami putuskan next destination adalah pantai Indrayanti, yang berarti kita kembali ke arah kita berangkat. Kami melewatkan tidak mengunjungi pantai Wediombo dan Siung yang berada di sebelah barat Sadeng dengan pertimbangan waktu. Setelah berkendara dengan kecepatan sedang  karena salah satu motor terindikasi bocor oli akhirnya sampailah kami di pantai Indrayanti. Sedikit informasi mengenai pantai ini, tempat ini adalah sebuah obyek wisata pantai yang terbilang baru di Wonosari. Saat saya berkunjung ke Wonosari sekitar tahun 2008 lalu, pantai ini sudah ada tetapi saat itu sepertinya baru tahap-tahap awal pembangunan. Sekarang ini pantai Indrayanti jauh lebih bagus daripada dulu, di pantai yang menurut cerita yang kami korek dari tukang parkir, pantai ini di miliki oleh seorang pengusaha dari Jogja dan di namakan sesuai dengan nama istrinya (that sweet :P ) ini terdapat beberapa gazebo, penginapan, mini cafe dan penyewaan Jet Ski.

What a lovely beach, isn’t it?
Pemandangan pantai Indrayanti dari bukit karang di sebelah baratnya, ternyata pantai ini cukup menarik minat wisatawan asing juga”
Masih menurut pak tukang parkir, tarif menginap di pantai Indrayanti adalah 650 ribu untuk kamar yang berada di atas (lantai 2) termasuk gratis Jet Ski selama 15 menit, dan 350 ribu untuk kamar biasa (lupa nanya apakah ada gratis Jet Ski juga). Sedangkan kalau cuma mau naik Jet Ski tarifnya adalah 150rb per 15 menit. Cukup murah bule sepertinya, kalau buat kami warga lokal (tetangga kabupaten dink :P ) cukuplah kita singgah sebentar, menikmati hamparan pasir kecoklatannya yang bersih, dan menyeruput sedikit coke di salah satu gazebo-nya. Oya, tentunya tidak lupa untuk hunting foto.


“Pantai yang bersih, gazebo yang asri dan pemandangan yang inspiring membuat kawan-kawan fotografer ini begitu bersemangat mengabadikan pemandangan indah ini”
 


“Pemandangan dari salah satu sudut resort, deretan bangku di bawah pohon perdu, sungguh syahdu suasana yang tercipta”



“Pantaiku bersih….. buanglah sampah pada tempatnya”

 

“Indrayanti’s Coastline, pantainya bersih berair bening”

Selesai sudah kunjungan di pantai Indrayanti yang elok asri ini. Menurut saya pantai baru ini highly recommended bagi yang suka wisata pantai. Pantai yang bersih, pasir putih kecoklatan, ombak yang cukup bersahabat, hamparan karang yang indah, penginapan dan gazebo yang asyik dan banyak hal-hal menarik yang bisa di eksplore dari pantai ini tentunya merupakan daya tarik yang bagus. Oke, selanjutnya perjalanan di lanjutkan ke Pantai Baron. Pada intinya di pantai Baron tujuannya adalah makan, karena di Baron banyak penjual makanan yang di dominasi sea food.
Sedikit gambar dari Baron :

“Pemandangan dari atas pegunungan karang pantai Baron”
 


“Bila kita mengalihkan pandangan ke arah timur Baron, terlihat deretan pantai Kukup, Krakal dan lain-lain”
 
Demikian laporan touring dan hunting kami kali ini. Pantai di daerah Wonosari memang selalu memunculkan ingatan yang kuat akan keindahannya, yang seakan membuat kita tak bosan untuk sekedar mengunjunginya kembali. Sebuah potensi wisata yang besar bagi kabupaten yang terkenal sering mengalami kekeringan ini. Bahkan menurut teman saya sebagian pantai di Wonosari ini keelokannya melebihi pantai di Bali, saya tidak bisa berkomentar soal hal itu mengingat saya belum pernah berkunjung ke Bali.

Salam dan semoga berguna…..

Wednesday, August 17, 2011

The Lone Rider goes to Puncak Suroloyo

Tanggal 30 Agustus 2010, di saat bulan masih menunjukkan bulan Ramadhan akhirnya kesampaian juga untuk melihat langsung tempat bernama Puncak Suroloyo. Sebelumnya sering melihat website Yogyess.com dan Jogjatrip.com terbersit keinginan untuk mengunjungi tempat tersebut. Berikut adalah sebuah petikan dari Yogyess.com :
” Matahari muncul dalam warna kemerahan kurang lebih pada pukul 5.00 WIB, menyembul di antara ranting pohon yang berwarna hijau. Sinarnya membuat langit terbagi dalam tiga warna utama, biru, jingga dan kuning. Serentak saat warna langit mulai terbagi, sekelompok burung berwarna hitam mulai meramaikan angkasa dan membuat suara serangga tanah yang semula kencang perlahan melirih.
Empat gunung besar di Pulau Jawa, yaitu Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro menyembul di antara kabut putih. Ketebalan kabut putih itu tampak seperti ombak yang menenggelamkan daratan hingga yang tersisa hanya sawah yang membentuk susunan tapak siring dan pepohonan yang terletak di dataran yang lebih tinggi. Dari balik kabut putih itu pula, stupa puncak Candi Borobudur yang tampak berwarna hitam muncul di permukaan lautan kabut”
Sebuah deskripsi yang sounds good sebagai sebuah tempat yang layak di kunjungi. Berlokasi di kabupaten Kulonprogo, tepatnya kecamatan Samigaluh yang lokasinya bergunung-gunung. Puncak Suroloyo sesuai dengan namanya adalah puncak tertinggi dari pegunungan Menoreh dengan ketinggian mencapai 1,019 mdpl, oleh karena itu udara sangat sejuk bahkan cenderung dingin meskipun di siang hari di musim kemarau. Menurut mitologi Jawa tempat ini adalah titik pusat pulau Jawa, bila di tarik garis dari utara ke selatan, dan dari barat ke timur pulau Jawa. Bagi orang yang percaya, tanggal 1 suro menurut penanggalan Jawa, tempat ini ramai dikunjungi orang untuk mengadakan ritual penolak bala yang menurut mitologi Jawa akan banyak hadir di bulan Suro. Wallahu ‘alam
Anyway, kembali ke catatan sang Lone Rider : Perjalanan ini di mulai dari kampus UGM (waktu itu sedang ada perlu) kemudian bersama sang motor tercinta,Vixi, menuju arah jalan Magelang dan kira-kira sedikit di utara terminal Jombor sang motor di belokkan ke kiri (sebenernya belum pernah lewat jalan ini, ngasal saja :-P ). Berkendara ke barat terus sampai akhirnya ketemu jalan yang cukup familiar karena sebelumnya pernah lewat (jangan tanya jalan apa, karena saya juga tidak tahu namanya). Wes-ewes-ewes dengan kecepatan sedang Vixi terus di geber sampai menyebrangi sungai Progo lewat sebuah jembatan kecil yang cuma cukup buat motor saja (pemandangan kali Progo-nya keren euy, cuman sayangnya tidak sempat mengeluarkan senjata kamera dari dalam tas). lewat jembatan tersebut dan masuk ke kabupaten Kulonprogo (banyak yang jual duren di sini).
Ketemu dengan jalan gede (Kalibawang – Muntilan), Lone Rider belok ke kiri (arah selatan) sambil ilang-iling mencari plakat penunjuk ke arah Suroloyo. Akhirnya menemukan sebuah plakat kecil sederhana dengan tulisan “BORO” ….Loh kok Boro?? bukan Suroloyo??.  Gak perduli, pokoknya hajar bleh belok kanan ke jalan aspal yang tidak begitu lebar dan mulai kelihatan pegunungan ( sampai di sini masih belum yakin ni jalan bener apa nggak, pokoknya jalan terus saja). Sedikit ke arah barat terdapat sebuah gereja besar banget di sebuah desa kecil. Baru ingat kalo di Boro memang terdapat sebuah gereja besar. Jalanan mulai naik dan pemandangan mulai mengasyikkan karena terdapat sebuah sungai dengan batu-batuan dan air dengan debit yang kecil, akhirnya berhenti sebentar untuk ambil foto.cekreeek.....cekreeek

” Sungai yang tidak saya ketahui namanya ini cukup bagus sebagai obyek foto, debitnya kecil dan airnya jernih (karena musim kemarau mungkin ya?). Foto ini di ambil dari sebuah jembatan kecil yang sepertinya menjadi penghubung antara dua kampung”


Perjalanan di lanjutkan dengan medan yang semakin menanjak dan jalan yang semakin jelek, rumah-rumah penduduk semakin jarang, dan tanaman semakin rimbun. Yang paling di khawatirkan dalam perjalanan sebagai Lone Rider adalah apabila terjadi masalah pada motor akan menyulitkan mengingat tidak ada teman yang bisa di mintai bantuan, dan mantapnya lagi adalah si Vixi baru saja mendapat masalah di fuel pump sekitar 2 minggu sebelumnya. Fuel pump tiba-tiba mati, dan untuk kejadian semacam ini solusi terbaik adalah ke bengkel resmi untuk di perbaiki (kalau ke bengkel tidak resmi garansi bisa hangus coy…), kalaupun bongkar sendiri itu juga bukan perkara mudah dengan peralatan seadanya. Jadi sambil terus mamacu motor yang semakin menderu-deru mencari grip di jalanan yang sangat menanjak, dalam hati terus berdoa supaya motor tidak kenapa-kenapa. Dalam perjalanan melihat ada bapak dan ibu guru pulang mengajar (buset, ngajar ditempat setinggi ini apa gak capek bolak-balik naik gunung ya??)
Vixiiiii
” The sad part of being a lone rider is that i never have my own picures on the fram since i have to grab and press camera’s shutter myself. Bring a tripod is sound to be a clever idea, but it give us another kilos on our shoulder to bring. Well all in all, it’s okay, i’m not fotogenic after all…hehe”


Udara semakin dingin dan terdapat tulisan “Puncak Suroloyo 10 km” WHATTTT ??!!!??, jauh juga rupanya…Naik lagee dengan mesin yang semakin menderum-derum dan jurang di kiri-kanan jalan menawarkan pesona keindahan dan maut yang mengancam apabila lengah. Akhirnya terlihat sebuah puncak gunung dan di atasnya terdapat semacam gardu pandang…It must be that place….But wait a minute, ternyata sedang ada pembuatan bangketan di tebing-tebing jalan tersebut, ngeri juga membayangkan pekerja bekerja di tempat seperti itu, di belakan mereka sudah terlihat pemandangan kota Magelang (menurutku sih, soalnya saat itu sudah hilang orientasi arah…taunya cuma depan-belakang, atas-bawah….hehehe)
Sebuah palang bambu menghadang, ooow rupanya tempat penarikan retribusi (kirain bisa masuk bleng tanpa mbayar…haha). Kalau tidak lupa tarifnya Rp. 3000 saja, murah-murah. Jalan sebentar dan akhirnya sampai juga di deretan anak-anak tangga yang panjang dan cukup terjal. Parkir motor dulu di sebuh rumah, eh rupanya kalau mau nyewa teropong ada juga di rumah itu. Tarif parkir Rp. 2000 dan kalau mau pinjam teropong Rp. 2000 juga. Cuap-cuap bentar sama pemilik rumah terus di lanjutkan jalan ke arah tangga. Terdapat sebuah papan petunjuk, dan ternyata : KKN PPM UGM was here…ni dia fotonya :

“Maaf kalau tulisan UGM-nya gak kelihatan, itu tu di pojok kanan bawah, ternyata KKN PPM UGM pernah ke tempat ini, mungkin tema KKN adalah pemberdayaan obyek wisata Puncak Suroloyo, hayo siapa yang dulu KKN di sini ngaku!!”


Bismillah, naik anak kesatu-dua-tiga dan seterusnya trus motret rumah penduduk dulu (pura-puranya motret, padahal menggeh-menggeh :D )

Naik lagi, dan menyadari bahwa Saya adalah satu-satunya pengunjung tempat ini. Sambil jalan sambil membayangkan bagaimana susahnya para buruh bangunan dulu menaikkan material dan semen ke tempat ini, soalnya saya yang cuman di bebani sebuah backpack berisi kamera saja merasa capek naik tangga yang banyak dan curam ini. Perlu di ingat bahwa pada tanggal 30 Agustus 2010 tersebut masih bulan puasa, jadi perjalanan naik tangga ini cukup menguras tenaga dan fluida dari tubuh. Akhirnya checkpoint pertama accomplished (pertama dan akhirnya terakhir, karena ngeri mau naik lagi, check picture below). Sebuah gardu pandang yang mengarah ke Kota Magelang (menurutku yang sedang hilang orientasi :D ). Sepanjang mata memandang terlihat pemandangan indah dari tanah terhampar yang ditumbuhi pemukiman dan sawah, sayangnya karena waktu sudah tengah hari kabut sudah tebal, pemandangan Candi Borobodur yang dijanjikan tempat ini pun tidak bisa terlihat (pada next trip kelihatan tapi gak jelas karena tertutup kabut).

“Ternyata ada bangunan di dekat gardu pandang, padahal jurang di tempat bangunan berdiri termasuk curam”


Puas melihat pemandangan di depan mata, terus memalingkan pandangan ke kanan ke arah anak tangga yang lain dan....eng-ing-eng :
Ternyata tebing yang longsor turut merusakkan anak tangga menuju checkpoint selanjutnya. Menurut standard safety yang pernah saya ikuti sewaktu saya bekerja di Kalimantan dulu, penting sekali untuk menerapkan Buddy System dalam tindakan apapun. Apa itu Buddy System?? adalah sebuah sistem yang menuntut kita untuk meminta bantuan atau mempunyai rekan dalam mengerjakan suatu pekerjaan, terlebih untuk pekerjaan yang beresiko tinggi. Melewati tangga yang longsor seperti ini adalah tindakan berbahaya, Risk Assesement nya susah terpenuhi, dengan resiko mulai dari jatuh, terpeleset, jalur tiba2 ambrol lagi atau sudah lewat terus jalur putus. Mengingat Lone Rider tidak punya rekan di sini, akhirnya di putuskan untuk turun dan pulang (Alhamdulillah punya justifikasi kuat untuk turun, padahal alasan sebenernya adalah sudah capek dan haus….hehehehhe).
Turun, ambil motor, bayar parkir dan menyusuri jalan yang sama untuk turun ke bawah (namanya turun pasti ke bawah lah :D ). Masih sambil ilang-iling kiri-kanan mengagumi pemandangan pegunungan yang elok, asri dan misty dengan udara sejuk di bulan Ramadhan di tahun 1431 H. Turunan tajam bukan berarti mesin jadi rileks, yang terjadi justru mesin nggerung2 mencoba engine brake, kehati-hatian sangat di perlukan di sini, hindari mengerem di tanah berpasir dan seimbangkan antara rem depan dan belakang, jikalau motor di rasa ndronjong terlalu kencang turunkan gigi ke posisi lebih rendah untuk mendapatkan engine brake yang lebih mantap.
Alhamdulillah sampai juga di pertigaan kecil jalan Kalibawang-Muntilan, ambil kanan ke arah Kenteng untuk pulang. Jalan lebar dan halus dengan tikungan2 tajam yang butuh perhatian lebih, terdapat juga tikungan irung petruk yang asyik di libas. Perempatan Kenteng, ambil kiri ke arah Godean dan pulang. Just for your information sang Lone Rider ini rumahnya di mBantul, sapa tau ada yang mau bertamu...hahaha

Kesimpulan :
Puncak Suroloyo sebuah tempat yang recommended untuk di kunjungi terutama oleh yang suka touring naik gunung baik itu dengan sepeda motor maupun Sepeda (tidak bisa membayangkan bagaimana nggenjot sepeda di tanjakan2nya…hehe). Pemandangan indah, udara sejuk, ongkos masuk murah. Yang masih kurang adalah adanya jalur yang ambrol tersebut (tapi terakhir kesana pada trip kedua sih sudah bagus lagi), dan kalau bisa sih ada jalur motor ke puncak nya…heheheh (ngarep)
Oya, mendingan jangan ikuti perjalanan ala Lone Rider, datang kesana enaknya rame-rame, jadi kalau ada apa-apa ada yang bantuin (Maksudnya kalau ada yang pingsan kecapekan naik tangga ada yang bantuin nggotong :D )

Salam Lone Rider....

The Lone Rider goes to: Lemah Rubuh (Selopamioro)

Banyak obyek wisata alam yang terdapat di Yogyakarta, mulai dari Kaliurang, Kaliadem, Merapi, Pantai-pantai Wonosari dll. Tapi ternyata ada juga sebuah tempat di daerah kabupaten Bantul yang menurut saya cukup indah untuk dikunjungi, terutama oleh mereka yang suka dengan pemandangan dan kegiatan alam, entah itu fotografi alam, foto-foto narsis :D, maupun Mancing :D, tempat yang saya maksud adalah desa Lemah Rubuh di sekitar Siluk Selopamioro. Sebenarnya Lemah Rubuh hanyalah sebuah kampung kecil dan sama sekali bukan tempat wisata (apabila definisi tempat wisata adalah sebuah obyek menarik yang oleh pemerintah setempat dijadikan obyek wisata dengan menarik retribusi dari pengunjung), pemandangan yang menarik di sana adalah pemandangan pegunungan seribu, lembah sungai Kali Oyo dan juga jembatan gantung.

"Pemandangan menuju ke arah jembatan gantung, seorang warga sedang beraktivitas. Kalau tidak salah bukit di atas adalah daerah Mangunan, apabila sudah sampai di Jembatan gantung bisa terlihat pagar-pagar di gardu pandang Kebun Buah Mangunan, Bantul"
Akses ke Lemah Rubuh cukup mudah, bisa ditempuh dari Jalan Imogiri timur terus ke Selatan arah Siluk, sebelum jembatan Siluk di sebelah SMP ada jalan kecil ke timur, ikuti jalan itu dan nikmati pemandangan sekitarnya sampai menemukan sebuah jembatan gantung.

"Menurut cerita jembatan dibangun oleh program ABRI masuk desa, sangat membantu akses antara 2 kampung yang terpisahkan oleh Kali Oyo. Terkadang masih terlihat warga yang menyeberang Kali Oyo di bagian sungai yang dangkal"
Akses dari selatan juga bisa, yaitu setelah melewati jembatan Siluk ambil jalan yang lurus (ke arah Panggang), di kiri jalan ada lapangan sepakbola dan kantor kelurahan, ambil jalan kecil di samping Kelurahan dan ikuti jalan kampung sampai ke Jembatan gantung.

"Salah satu pemandangan bantaran Kali Oyo yang dangkal dan jernih sampai dasar sungai terlihat jelas dari permukaan"
Pemandangan utama di Lemah rubuh adalah sebuah jembatan gantung yang menghubungkan dua kampung yang terpisah oleh Kali Oyo. Tapi menurut saya, adalah Kali Oyo dan bukit-bukit disekitarnya-lah yang membuat tempat ini begitu pas untuk hunting pemandangan alam. Kali Oyo pada musim kemarau mempunyai air yang jernih dan sejuk dengan warna kehijau-hijauan (mungkin karena refleksi warna lumut). Dasar sungai pun tidak begitu dalam (di bagian-bagian tertentu) sehingga dasar sungai kelihatan dari permukaan. Meskipun demikian tidak disarankan mandi di sungai mengingat ada beberapa bagian sungai yang menurut warga sekitar banyak memakan korban jiwa karena dalam (kalau pengen mandi, tanya-tanya ke warga sekitar dulu mana tempat yang recommended :D)

"Kali Oyo terletak di sebuah lembah antara dua bukit, airnya jernih dan beberapa bagian dangkal, batu-batuan putihnya banyak di ambil warga untuk di jual sebagai batu taman"
"Salah satu sudut sungai oyo yang hijau di musim kemarau"


"Menowi bade adus mboten ten kedung nggih mas! itulah peringatan yang disampaikan oleh warga sekitar perihal tempat ini, sudah banyak korban tenggelam di kedung ini. Dari atas memang terlihat kalau sungainya dalam..waspadalah...waspadalah"

" Sewaktu mengambil gambar ini ada warga sekitar membawa senapan angin sedang menembak ikan, Sepertinya tempat ini banyak ikannya, pernah mencoba mancing tapi sungai sedang banjir dan airnya keruh, dan tidak dapat apa-apa. Mungkin kalau air sedang tenang lebih mantap lagi buat mancing"

Demikian sekilas mengenai Lemah Rubuh, sebuah tempat yang menurut saya cukup indah, sangat cocok untuk dijadikan obyek hunting foto-foto lanscape, bahkan menurut seorang teman yang warga sekitar sini, suasana di saat sore hari jauh lebih indah lagi, mungkin kapan-kapan perlu di buktikan. Yang jelas tempat ini terutama jembatan gantungnya cukup populer dibuktikan dengan cukup banyak orang yang mengunjunginya untuk sekedar foto-foto, seperti terlihat sewaktu saya berada di sini lalu datang serombongan orang dengan mobil datang cuma untuk melihat-lihat dan foto-foto. Oya, jembatan gantung ini juga yang konon pernah di gunakan untuk shooting iklan salah satu provider jaringan seluler (A*IS). Sekarang tinggal menunggu ada serial FTV yang biasanya shooting di kampung-kampung untuk mengambil Lemah Rubuh sebagai tempat shootingnya...hehehhee

Sekian dan Salam...

Memulai Lembaran Baru

Alhamdulillah akhirnya blog kedua saya sudah jadi. Sebelumnya saya biasa posting di wordpress, tetapi ingin mencoba blog yang lain dan jadilah akhirnya saya berada di sini. Pada mulanya saya ingin blog baru saya ini akan saya gunakan untuk posting catatan perjalanan saya baik itu dalam rangka kerja, liburan ataupun cuma jalan-jalan gak jelas. Tetapi sepertinya kalau cuma membahas soal jalan-jalan saja kok rasanya garing maka nantinya blog ini Insya Allah akan berisi banyak hal yang berasal dari pikiran saya yang suka 'nglayap' kemana-mana :D.

Oiya, sebelum lebih jauh lagi mungkin ada yang belum tau arti kata 'klayapan' ? klayapan adalah kata dalam bahasa jawa yang kurang lebihnya berarti : bergerak/berjalan/mobile dengan tujuan tertentu (atau kadang bahkan tanpa tujuan...hehehe). Untuk posting awal di klayapan.com ini nantinya saya akan meng-copas tulisan saya di blog saya sebelumnya (kwicaksono.wordpress.com). Selanjutnya ke depannya. di harapkan produksi tulisan akan bertambah. Amien

Regards,

Kunto Wicaksono